tendanganpojok.com – Setelah 12 tahun mematangkan konsep milik Sir Stanley Rous, FIFA akhirnya menyetujui penambahan jumla peserta Piala Dunia 1982 menjadi 24 tim yang dibagi dalam enam grup. Masing-masing juara dan runner up akan dibagi kembali dalam empat grup dengan masing-masing berisi tiga negara. Para juara grup akan melaju ke semifinal. Piala Dunia di Spanyol ini menjadi Piala Dunia pertama yang menggunakan adu penalti jika kedua tim bermain imbang di semifinal dan final.

Intervensi Sheikh, Hilangnya Gigi, dan Main Mata Jerman-Austria

Penambahan kontestan membuat satu zona bisa diwakili oleh satu negara. Yang menarik, beberapa negara debutan pun muncul. Ajazair, Kamerun, Honduras, Kuwait, dan Selandia Baru muncul dalam turnamen empat tahunan ini untuk pertama kalinya.

Sejatinya Piala Dunia 1982 menghasilkan beberapa rekor apik. Norman Whiteshide menjadi pemain termuda yang bermain pada Piala Dunia di usia 17 tahun dan 41 hari. Catatan ini sekaligus mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Pele. Hungaria juga membuat kejutan dengan mencetak skor terbesar dalam satu pertandingan Piala Dunia ketika mengalahkan El Salvador 10-1.

Akan tetapi, Piala Dunia kali ini juga dipenuhi beberapa momen kontroversial. Tidak hanya mengundang perdebatan, beberapa kejadian yang terjadi di Spanyol 1982 terbilang memalukan. Salah satu yang paling dikenang adalah ketika Sheikh Kuwait turun ke lapangan dan mengintervensi wasit Miroslav Stupar untuk menganulir gol yang dicetak lawannya saat itu, Prancis.

Main Mata Jerman-Austria

Kejadian berikutnya di Piala Dunia 1982 adalah main mata paling hina yang pernah dilakukan sepanjang Piala Dunia dengan aktornya adalah Jerman Barat dan Austria. Keduanya tergabung di Grup B bersama Aljazair dan Cile. Aljazair membuat kejutan dengan mengalahkan Jerman Barat selaku juara Eropa 1980 dengan 2-1 sementara Austria menang 1-0 melawan Cile.

Pada pertandingan berikutnya, Jerman mengalahkan Cile 4-1 sementara Aljazair dikalahkan Austria 2-0. Dengan hasil ini, Jerman harus menang melawan Austria dengan selisih minimal satu gol sementara Aljazair harus menang di laga terakhir melawan Cile. Austria sendiri masih akan lolos meski kalah dengan selisih dua gol sekalipun.

Laga Jerman melawan Austria merupakan pertandingan terakhir yang digelar sehari setelah pertandingan Aljazair melawan Cile. Aljazair sendiri menjadi pemenang dengan skor 3-2. Namun, yang terjadi selanjutnya di El Molinon adalah pemandangan yang sangat menggelikan.

Jerman unggul 1-0 di menit ke-10 melalui Horst Hrubesch. Namun, setelah gol tersebut tidak ada jual beli serangan yang berarti. Kedua kesebelasan hanya saling mengoper bola sepanjang sisa pertandingan. Hal ini mengundang kemarahan para penonton yang hadir. Mereka yang berada di tribun berteriakFuera, Fuera (keluar, keluar) serta bersorak meneriakkan nama Aljazair. Skor akhir adalah 1-0 dan memastikan keduanya lolos.

Beberapa tahun setelahnya, legenda Austria Hans Krankl buka suara. Ia mengatakan kalau gelandang Jerman Paul Breitner datang dan mengatakan, “Kalian (Austria) tidak akan menyamakan kedudukan kan? Kami sudah lolos, dan kalian juga lolos. Selesai sudah.”

Hal ini membuat pertandingan tersebut dijuluki sebagai Disgrace of Gijon. FIFA juga merevisi format pertandingan terakhir dengan menggelar laga pamungkas grup secara bersamaan sejak 1986 untuk menghindari main mata.

Kiper Jerman yang Hampir Membunuh Pemain Prancis

Jerman Barat seolah tidak mau kehabisan cerita. Setelah main mata dengan Austria, penjaga gawang mereka yaitu Harald Schumacher melakukan aksi yang hampir saja membuat pemain Prancis, Patrick Battiston meregang nyawa.

Bertemu di semifinal, Patrick lepas dari penjagaan pemain belakang Jerman. Untuk menghindari terjadinya gol, Schumacher keluar dari sarangnya. Bola bisa dibelokkan Battiston, tapi Schumacher menghentikan gerak lari Battiston dengan sedikit mengangkat kaki sehingga benturan pun terjadi.

Battiston tidak sadarkan diri yang membuat rahangnya patah dan kehilangan tiga giginya. Michel Platini menyangka teman setimnya meninggal dunia. Yang menarik, kejadian ini luput dari pandangan wasit Charles Corver dan tidak memberikan peringatan kepada Schumacher. Legenda FC Koln ini pun merasa kalau kejadian itu bukan salahnya.

“Lebih baik tampil gila-gilaan daripada membosankan. Kalau memang hal itu terjadi (kejadian Battiston) maka itu semua salahnya. Tapi, kalau memang dia ingin menuntut saya maka saya akan membelikan dia gigi palsu,” tuturnya.

Cattenaccio Kalahkan Jogo Bonito di Piala Dunia 1982

Brasil saat itu disebut-sebut sebagai calon kuat untuk menjadi juara Piala Dunia 1982. Di tangan Tele Santana, Selecao selalu bermain layaknya pertunjukkan sirkus. Permainan mereka kerap membius penonton yang hadir. Skuat mereka pun lengkap dengan gabungan dari pemain-pemain yang ikut serta pada turnamen 1974 dan 1978.

Filosofi Santana didukung dengan pemain-pemain yang kompeten. Ada Zico, Socrates, Cerezzo yang menjadi inti dari permainan menghibur mereka. Tergabung di Grup E, Brasil tampil apik dengan menjadi tim selain Hongaria yang bisa mencetak 10 gol. Dengan gagah merek Uni Soviet (2-1), Skotlandia (4-1), dan Selandia Baru (4-0).

Pada fase grup kedua, mereka berada di Grup 3 bersama Italia dan Argentina. Sempat mengalahkan Argentina 3-1, Brasil justru dibuat tak berdaya ketika melawan Italia yang diwarnai dengan trigol Paolo Rossi. Hasil tersebut kemudian memaksa mereka angkat koper dan pulang kembali ke negaranya.

Sekembalinya dari Spanyol, skuat Brasil tetap disambut dengan suka cita. Tele Santana sendiri akhirnya mengundurkan diri. Para pendukung Brasil menyamakan skuad 1982 saat itu dengan Belanda 1974, dan Hungaria 1954 sebagai tim terbaik tanpa gelar juara dunia.

Italia yang Mengejutkan

Tidak ada yang memprediksi kalau Piala Dunia 1982 akan menjadi milik Italia. Dua tahun sebelum turnamen, kompetisi mereka didera skandal pengaturan skor yang disebut Totonero dengan tokoh utamanya adalah Milan, Lazio, Perugia, Bologna, Avellino (Seri A), Taranto, dan Palermo (Seri B). Sementara itu skandal ini juga menjerat 19 pemain termasuk sang striker Paolo Rossi.

Italia sendiri memulai fase grup dengan catatan yang negatif. Tergabung di Grup A, mereka memang lolos sebagai runner up di bawah Polandia, tapi itu dengan catatan tiga kali imbang dan hanya unggul produktivitas gol atas Kamerun.

Skuad asuhan Enzo Bearzot ini baru tampil baik ketika memasuki fase grup dua. Argentina mereka kalahkan dengan skor 2-1. Taktik pertahanan gerendel yang mereka miliki kembali membawa hasil setelah mengalahkan Jogo Bonito milik Brasil dengan skor 3-2. Dalam laga itu, Rossi menjadi aktor dengan memborong semua gol Azzurri.

Polandia yang ketika di fase grup hanya bermain imbang 0-0 bisa mereka kalahkan 2-0 di semifinal. Mereka kemudian ditantang Jerman Barat pada partai puncak. Sempat gagal membuka gol setelah penalti Antonio Cabrini gagal, Italia akhirnya sanggup menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya setelah menang 3-1 lewat gol Paolo Rossi, Marco Tardelli, dan Alessandro Altobelli. Nama pertama bahkan menjadi top skor turnamen dengan enam gol. (Mohamad Devara)